Buton.. sisa kejayaan sebuah keraton..

Nama Buton jadi semacam “reminder” bagi saya, dulu sewaktu diri ini masih berseragam putih merah, guru selalu mengidentikkan kata ASPAL dengan Buton. Hal ini terngiang terus sampai sekarang, sampai saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Buton setelah perjalanan saya ke Wakatobi beberapa waktu lalu. Tidak salah memang mengidentikkan Buton dengan hasil alam aspalnya yang sudah terkenal itu. Tapi, satu yang juga perlu diketahui, Buton beratus tahun yang lalu juga pernah menjadi pusat kejayaan dan kebudayaan di daerah tenggara Sulawesi.

Satu bukti otentik kejayaan Buton adalah keraton Buton, yang merupakan sebuah bentuk benteng kota, tipikal benteng pulau yang menghadap laut, untuk melindungi kerajaan dan menghadang serbuan musuh. Benteng ini bahkan disebut sebagai benteng terbesar di dunia versi Guiness World Book of Record dan versi MURI. Hal ini saya ketahui sewaktu browsing tentang Buton, sebelum keberangkatan ke Wakatobi. Jadi sebelumnya, saya tidak pernah tahu sama sekali. Saya yang kurang pengetahuan atau memang tidak ada niat pihak-pihak berkepentingan untuk “menggaungkan” nama Buton? seperti Borobudur atau Komodo mungkin?

Pulau Buton sendiri secara administratif dibagi menjadi 3 daerah tingkat II, Kabupaten Muna di bagian utara, Kabupaten Buton di bagian selatan, dan sedikit bagian Kota Baubau di baratdaya pulau. Di Kota Baubau inilah keraton Buton yang terkenal itu terletak, menjadi sebuah saksi kejayaan di masa lampau. Untuk menuju Kota Baubau, bisa melalui jalur laut maupun udara. Jalur udara bisa melalui Kendari ataupun Makasar. Sedangkan jalur laut dapat dilewati juga dari Kendari dan Makasar, serta kota-kota kecil di sekitar Buton, termasuk Wanci.

Saya sendiri tiba di Buton dengan menumpang KM Agil Pratama dari Wanci dan kemudian keluar Buton dengan menumpang speed-jet KM Sagori ke Kendari. Saya tiba sekitar jam 7 pagi di Baubau. Tak pernah disangka sebelumnya, teman seperjalanan saya dari Wanci, Isan, yang seorang asli Baubau, bersedia menemani dan menjadi guide saya selama di Baubau. Sungguh, hanya diawali dengan percakapan sederhana, kami bisa terlibat diskusi tentang banyak hal. Dan mungkin karena usia yang masih sama-sama muda dan ketertarikan akan hal-hal yang sama, Isan menawarkan untuk menemani saya dan tanpa ragu saya pun setuju.

Awalnya kami beli tiket untuk kepulangan saya langsung ke Kendari siangnya. Isan tampak kecewa, tapi apa boleh dikata, saya memang harus mengejar pesawat balik ke Jakarta lagi keesokan harinya. Kemudian kami singgah di rumah Isan yang sederhana untuk sekedar mengisi perut dan bebersih. Mengingat waktu yang sempit, kami langsung jalan-jalan ke keraton. Dengan menaiki motor, kami berkeliling kota sebentar, lalu menuju ke keraton yang tidak terlalu jauh dari pusat kota dan berada di tinggian.

Jalan masuk ke keraton tidak pernah ditutup, selalu dibuka, karena banyak juga penduduk yang bertempat tinggal di pemukiman dalam kompleks keraton. Pengunjung bebas untuk keluar masuk menikmati keindahan keraton. Disebut benteng terbesar, karena bangunan pagar benteng ini melingkar sepanjang 2740 meter, melindungi wilayah yang cukup luas di bagian dalamnya sekitar 23,3 hektar, yang dulu merupakan sebuah kota. Yang bertempat tinggal di sini sekarang adalah pewaris dari kerajaan beserta kerabat-kerabatnya yang sudah beranak-pinak.

Di sepanjang dinding benteng terlihat pos-pos penjagaan dan pengintaian ke arah luar benteng, serta beberapa pintu keluar masuk khusus yang berukuran lebih kecil daripada gerbang utama untuk mobilisasi. Pintu-pintu ini diberi nama khusus seperti Lawana Lanto, Lawana Dete, Lawana Waborobo. Selain itu, ada juga beberapa pos yang lebih lebar dan lapang sebagai tempat meletakkan meriam. Nama pos ini juga ada bermacam-macam. Bangunan dinding benteng sendiri dibuat dari batu karang yang dipecah-pecah dan (katanya) direkatkan dengan putih telur.

Selain itu, ada juga kompleks pemakaman raja di bagian timur kompleks yang (menurut saya) kurang terawat, sebuah jangkar besar yang menunjukkan bahwa Buton adalah sebuah kerajaan maritim, tempat ritual penobatan raja baru, serta satu monumen yang memuat silsilah raja-raja yang pernah memimpin Buton, gelarnya, dan masa kepemimpinannya. Terlihat dari monumen ini, kesultanan Buton (atau awalnya disebut Kerajaan Wolio) sudah berdiri dari pertengahan abad XIV dan sudah dipimpin oleh 43 raja sampai tahun 1960. Daerah kekuasaannya meliputi sebagian pulau Buton, Bombana di daratan Sulawesi, sampai daerah Wakatobi di selatannya.

Yang tak kalah hebat adalah Kasulaana Tombi, sebuah tiang bendera dari abad ke-17 yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Selain itu ada juga satu lubang kecil yang pernah dijadikan tempat persembunyian Arupalaka, yang kontroversial, dari kejaran prajurit Gowa. Saya sebut kontroversial karena Arupalaka di satu sisi dianggap pengkhianat oleh Kerajaan Gowa, tetapi sekarang beberapa pihak malah menganggapnya pahlawan. Saya pernah melihat satu buku tebal yang mengupas tentang kehidupan Arupalaka di toko buku, mungkin nanti bisa saya cari lagi dan menuntaskan rasa ingin tahu saya.

Untuk menegaskan eksistensi sebagai sebuah kesultanan Islam, di dalam kompleks didirikan sebuah mesjid besar yang umurnya juga sudah ratusan tahun. Dilihat dari nama-nama raja yang memakai gelar sultan, maka dapat dipastikan bahwa Buton sudah dipengaruh ajaran agama Islam sejak permulaan abad XVI. Di depan mesjid juga terdapat satu balai pertemuan, Baruga, untuk tempat bercengkrama petinggi kerajaan dengan rakyatnya. Agak jauh dari mesjid, masih berdiri juga rumah panggung kayu yang perah menjadi tempat tinggal raja. Bentuknya sederhana saja, tetapi tetap menunjukkan kegagahan jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tidak ada penghalang atau pagar khusus yang membatasi interaksi raja dengan bawahan dan rakyat.

Bagi saya, mengelilingi keraton Buton, walau sebentar, ibarat memasuki museum yang besar, kita dibuat terkagum-kagum dan sekaligus miris menyaksikan peninggalan sejarah yang kurang dirawat, ditata, dan mulai diubah di sana-sini. Hal ini disampaikan Isan yang senantiasa menjelaskan berbagai hal ibarat guide berpengalaman. Isan, yang pernah bergabung dengan kelompok yang menolak modernisasi di dalam kompleks keraton, berkata bahwa warga yang berada dalam keraton adalah ibarat dua sisi koin yang perlu sama-sama diperhatikan. Satu sisi, warga memang berhak menikmati modernisasi, tetapi tidak serta merta menghilangkan dan mengabaikan peninggalan sejarah yang teramat tinggi nilainya.

Perubahan yang tampak sekali saya lihat adalah mulai menjamurnya rumah-rumah batu yang lebih modern sebagai pengganti rumah kayu yang dianggap ketinggalan jaman. Kabel-kabel listrik juga sambung-menyambung menjuntai-juntai di halaman mesjid dan balai pertemuan, mengurangi kesederhanaan dan keaslian sebuah peninggalan sejarah. Beberapa kalangan di Baubau juga mulai bersuara tentang hal ini, meminta pihak-pihak yang berkepentingan untuk turun tangan mencarikan solusi yang terbaik agar warisan keraton, benteng terbesar di dunia ini tetap eksis dan tetap menjadi pengingat dan sumber inspirasi bagi generasi selanjutnya dengan orisinalitasnya. Di Buton, saya belajar tentang warisan sejarah yang sedang bergulat dengan pewarisnya yang beranjak menuju dunia modern.

Saya juga terpukau oleh sebuah persahabatan dan ketulusan seorang saudara baru. Oleh Isan, saya diberi oleh-oleh bibit Adenium yang saya bagikan ke teman dan ibu saya, serta ditemani juga mencari oleh-oleh CARUME (kacamata renang tradisional). Isan, di akhir kunjungan saya masih sempat berpesan, “tolong kasi kabar ke saya, kalau ada teman, atau saudara, atau kenalan yang datang ke Buton, saya akan temanin. kabarkan juga ke banyak orang bahwa Buton adalah tempat yang nyaman dikunjungi, kaya akan warisan sejarah dan objek wisata alam, serta ramah terhadap pengunjung”. Dan saya mencoba menyampaikan pesan Isan melalui tulisan ini. Semoga pesannya tersampaikan.

sumber/http://electrum.wordpress.com

Posted on Desember 16, 2011, in Buton/SULTRA. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Buton.. sisa kejayaan sebuah keraton...

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: