‘Abduction’: Pembuktian Taylor Lautner Pasca Twilight Saga

Jakarta – Nathan (Taylor Lautner) adalah remaja yang bisa Anda temui di mana saja. Bermain bersama teman, berpesta, tidak begitu akrab dengan orangtua dan memiliki perasaan terpendam terhadap perempuan cantik depan rumah, Karen (Lily Collins). Yang berbeda dari Nathan adalah hasrat anehnya untuk melakukan kekerasan. Itu, dan mimpi yang sama yang terus muncul di saat-saat tertentu: seorang perempuan yang dibunuh. Suatu hari Nathan dan Lily menemukan sebuah situs orang hilang di internet yang membawa mereka ke sebuah jebakan mengerikan yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal dunia. Belum cukup harus dikejar-kejar interpol CIA dan penjahat dari Eropa, Nathan harus menerima info baru bahwa kedua orangtuanya ternyata bukan orang tua kandungnya. Jadi, siapa dia sebenarnya? Kenapa dia menjadi incaran para penjahat dan juga CIA? Hollywood memang selalu punya cara untuk menarik anak-anak muda beranjak dari sofa nyaman mereka ke bioskop. Dimulai dengan ‘Twilight Saga’ dan beberapa film sejenis, ‘Abduction’ adalah sebuah action remaja dengan cita rasa yang kurang lebih sama. John Singleton menyutradarai film ini dengan skrip dari Shawn Christensen. Agak disayangkan, seorang John Singleton yang dikenal dengan film ‘Four Brothers’ atau ‘2 Fast and 2Furious’ mau menyutradarai film action remaja tanggung ini. Ceritanya tidak misterius sama sekali, dan adegan action-nya (yang boleh dibilang merupakan porsi yang paling diharapkan dari film seperti ini) tidak ada yang membuat jantung berpacu dengan cepat, kalau tidak mau disebut super membosankan. Walaupun, kita bisa melihat jejak film trilogi ‘Bourne’ di film ini, terutama film pertamanya. Bahkan, di salah satu adegannya, karakter yang dibawakan Lily Collins nekat berkata ke Taylor Lautner bahwa dia “agak” sedikit mirip dengan Matt Damon. Nah, bicara tentang Taylor Lautner, kita memang sudah agak menunggu kapan pemuda ini bermain di film lain, selain franchise Twilight Saga yang memperkenalkannya ke seluruh dunia. Dibandingkan dengan angkatannya yang lain seperti Robert Pattinson, Kristen Stewart atau bahkan Anna Kendrick, Taylor Lautner adalah aktor yang kurang begitu dilirik oleh studio Hollywood. Sampai akhirnya di ‘Abduction’ inilah Taylor Lautner berkesempatan untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Bahwa dirinya tidak menghandalkan perut six-pack-nya itu untuk bertahan di Hollywood. Berbeda dengan Robert Pattinson yang bisa menunjukkan kualitas aktingnya di ‘Remember Me’ pasca Twilight Saga, atau Anna Kendrick di ‘Up in the Air’ (yang membuatnya mendapat nominasi Oscar), sebaliknya Taylor Lautner malah melakukan hal yang berlawanan. Ekspresi mukanya datar dan dia tidak tahu bagaimana cara mengimbangi lawan aktor kelas berat yang harus dia hadapi (mulai dari Jason Isaacs, Sigourney Weaver, Alfred Molina bahkan sampai Michael Nyqvist yang diimpor dari Swedia untuk bermain di film ini). Satu-satunya yang bisa diberikan pujian adalah Taylor Lautner lumayan bisa berlari kencang dan berkelahi dengan ganas. Dan itu pun juga kurang banyak porsinya. Jadi, kesimpulannya dibutuhkan lebih dari sekedar wajah nyolot dan perut six-pack untuk bisa menjadi bintang action yang bersinar. Satu hal yang tidak dimiliki Taylor Lautner untuk bisa menjadi Matt Damon adalah akting. Paling terakhir, apakah ‘Abduction’ layak ditonton? Kecuali Anda memang penggemar berat Taylor Lautner dan tidak mencari film action yang berkelas, film ini bisa Anda simak. Yang jelas, saya sudah memperingatkan.

 

 

 

 

 

sumber.detik.com(mmu/mmu)

Posted on Oktober 14, 2011, in Artis & Selebritis. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada ‘Abduction’: Pembuktian Taylor Lautner Pasca Twilight Saga.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: