Masjid Tertua Beijing Sembuhkan Xinjiang Dari Trauma

BEIJING (Berita SuaraMedia) – Bagi Seref Yigit,seorang Muslim Turki berusia 28 tahun yang kini menempuh pendidikan di sebuah universitas elit di China untuk meraih gelar doktoralnya, kehidupan relijius di China tidak ada bedanya dengan di negaranya sendiri.

“Kehidupan saya sebagai seorang Muslim di sini dan di Istanbul tidak terlalu berbeda. Ketika saya ingin pergi ke Masjid, saya pun pergi ke Masjid. Ketika saya akan menunaikan sholat, saya juga langsung menunaikannya,” ujarnya kepada wartawan kantor berita Xinhua beberapa saat melaksanakan sebelum sholat Jumat di Masjid tertua di Beijing, Masjid Niujie.

Beberapa saat sebelum kedatangannya, Seref Yigit sedang berada di dalam bus menuju Masjid. Ia terkejut mendengar pengumuman dalam bahasa Arab di dalam bus, mengingatkan agar ia tidak melewatkan pemberhentiannya di Masjid Niujie, sebuah Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi.

Ia merasa sangat senang mendengar pengumuman dalam bahasa Arab di dalam transportasi umum untuk memandu orang-orang yang akan pergi ke Masjid yang berjarak sekitar 15 menit dari Lapangan Tiananmen.

Bahasa Arab tidak biasa terdengar di dalam bus di kota-kota lain, di mana sebagian besar menggunakan bahasa mandarin atau Inggris. Namun, distrik di mana Masjid itu berada sangat istimewa – merupakan kawasan hunian bagi 23 minoritas dengan populasi Muslim Hui mencapai 12.000 atau sekitar lebih dari 20% dari total populasi di wilayah tersebut.

Seref Yigit bukan satu-satunya orang asing dalam sholat Jumat hari itu. Xue Tianli, Imam Masjid, mengatakan Masjid yang berdiri sejak tahun 996 itu selalu menjadi tempat yang populer bagi seluruh Muslim dengan berbagai asal keturunan.

Dengan pilar-pilar merah di sepanjang koridor dan desain Islami yang terlihat di halaman, Masjid itu, di mana gabungan antara pengaruh budaya China dan Islam sangat nampak, adalah rumah bagi ratusan Muslim setiap Jumat siang.

Beberapa saat sebelum sholat dimulai, semakin banyak Muslim yang datang dan gulungan karpet harus digelar hingga ke luar ruangan agar dapat mengakomodasi jamaah yang baru datang.

“Dulu, orang-orang terbiasa untuk memanjat ke atap bangunan untuk melakukan ibadah. Kini masalah itu telah terpecahkan berkat proyek renovasi pemerintah sebesar 25 juta yuan (sekitar US $ 3.66) yang melipatgandakan ukuran Masjid di tahun 2005,” ujarnya.

Jumlah pengunjung Masjid terbesar dan tertua di Beijing ini tidak berkurang meskipun terjadi kerusuhan di Xinjiang yang menewaskan 190 orang dan melukai 1.600 lainnya. Bagaimanapun, meski Beijing berada ribuan mil jauhnya dari Xinjiang, pusat kerusuhan, efeknya masih dapat dirasakan di ibukota China ini.

Di pintu masuk Masjid, beberapa polisi berdiri di samping sebuah mobil polisi, dan beberapa meter dari mereka, dua petugas pengelola urban – disebut chengguan – dalam pakaian formal yang menyerupai seragam polisi, berdiri di bawah bayangan pohon.

Orang-orang asing juga diperiksa barang bawaannya untuk alasan keamanan sebelum memasuki Masjid.

Imam Masjid, Xue Tianli, mengatakan salah satu hal yang mereka lakukan pasca kerusuhan Xinjiang adalah mempromosikan doktrin Islam sebagai agama yang damai.

“Kami menekankan interpretasi tersebut dalam doktrin yang kami sebarkan untuk memperingatkan mereka yang memiliki niat buruk,” ujarnya sembari menambahkan bahwa Masjid tetap beroperasi seperti biasa pasca kerusuhan.

Zhang Lianci, sekretaris jenderal Asosiasi Islam di distrik Xuanwu, lokasi Masjid Niujie, mengatakan ia tidak melihat penurunan jumlah Muslim yang datang ke Masjid pasca kerusuhan Xinjiang, sebaliknya jumlah para jamaah meningkat karena suasana kedamaian dalam Masjid tersebut seakan menenangkan para Muslim yang masih shock akan peristiwa berdarah tersebut.

Setelah mengalami empat kali renovasi, Masjid tersebut kini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk melaksanakan ibadah, terlebih para jamaah kini tidak lagi terlalu mengkhawatirkan kondisi ekonomi mereka berkat meningkatnya perekonomian nasional setelah pemerintah menerapkan kebijakan pintu terbuka dan reformasi di tahun 1978. (rin/ep) www.suaramedia.com


Posted on Juli 12, 2011, in Agama. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Masjid Tertua Beijing Sembuhkan Xinjiang Dari Trauma.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: